Aba (Setyaji) | Cerita tentang Aba | Contoh Cerita Pendek 2021

5 1 vote
Penilaian
Mencari lain?
Judul
0%
Plot
0%
Karakter
0%
Latar
0%
Kepenulisan
0%
Moralitas
0%
Kreatifitas & Pemahaman
0%
Jumlah Kata
0%

Aba

Cerpen karya Setyaji Nurwansyah

Cover Cerita Aba Karya Setyaji Nurwansyah

Matahari menarik kembali sinar-sinarnya dan digantikan oleh sinar sang rembulan. Malam yang terasa kelam dan redup meski sebenarnya malam ini cerah. Namun hati yang risau ini membuat menjadi kelam. Aku terdiam di teras rumah sembari mendengar kan lagu yan berjudul “Ayah” seakan-akan lagu ini menjadi soundtrak dalam potongan film yang sedang aku perankan malam ini.


Dimana akan kucari
Aku menangis seorang diri
Hatiku selalu ingin bertemu
Untukmu aku bernyanyi
Untuk ayah tercinta
Aku ingin bernyanyi
Walau air mata dipipiku
Ayah Dengarkanlah
Aku ingin berjumpa
Walau hanya dalam mimpi



Lihatlah hari berganti

Namun tiada seindah dulu
Datanglah aku ingin bertemu
Denganmu aku bernyanyi

Untuk ayah tercinta
Aku ingin bernyanyi
Walau air mata dipipiku
Ayah Dengarkanlah
Aku ingin berjumpa
Walau hanya dalam mimpi


Lagu ini terus ku putar berulang-ulang. Karena lirik nya yang begitu mendalam dan inti dari cerita lagu itu sama seperti apa yang kurasakan saat ini yang merindukan masa-masa yang indah saat keluarga ku utuh. Di mana setiap aku terbangun dari lelapnya tidur ku aku selalu mendengar suara Abaku yang selalu menginggatkan ku untuk sholat subuh. Namun kini aku tak bisa merasakan itu lagi, setiap aku terbangun dan terjaga dalam tidurku tak lagi ku dengar suara Abaku yang selalu sabar dalam menginggatkanku. Entah pergi kemana semua masa-masa itu dan mungkinkah akan kembali. Semua kata-kata itu terus berbicara keras dalam hatiku.

Tak sadar aku larut dalam lamunan yang membawaku menyusuri lorong waktu yang panjang menuju ke suatu masa ketika Abaku akan di bawa ke Jogja. Waktu itu aku baru pulang sekolah, tiba-tiba sudah ada banyak orang yang datang kerumahku, hatiku bertanya-tanya apa yang sedang terjadi di rumaku, tanpa fikir panjang aku pun mempercepat langkahku. Hingga akhirnya aku sampai di rumah dan aku bertemu dengan Ibu ku.
“Bu, apa yang terjadi? Dengan nafas yang terengah-engah
“Kak… Abamu harus di bawa ke Jogja untuk dirawat, karena di kota ini tak sanggup lagi merawat Abamu.”
“Aku ikut ya Bu…” sambil memegang tangan ibu dan dengan suara yang memaksa
“Kamu di sini aja kak sama adikmu Uki, kamu kan harus sekolah biar nanti naik ke kelas 4” dengan senyum dan mata yang mulai berkaca-kaca.
“Tapi bu…”
Belum selesai aku bicara Ibu sudah memotong pembicaraanku.
“Jangan khawatir pasti kamu mau nanya nanti kamu tinggal sama siapa kan?”
“Iya bu”
“Nanti kamu tinggal bersama pamanmu”
“Tapi bu paman kan sering pulang malam dan pulang dengan keadaan mabuk?”
“Ibu sudah nasehatin paman supaya tidak pergi malam, dan fokus untuk menjaga kamu dan Uki.”

Rasa di hatiku tetap ada yang mengganjal dan rasanya aku ingin ikut, untuk menemani Aba berjuang melawan penyakitnya. Dan aku pun terus membujuk Ibu agar mengijinkan ku untuk ikut. Namun ibu tetap tidak mengijinkanku ikut.
Ibu pun mulai meninggalkanku dan menyiapkan berbagai keperluan yang di perlukan oleh Abaku di Jogja nantinya. Tak lama kemudian seseorang datang menuju ke arahku dan menepuk pundak ku dan ternyata adalah pamanku yang akan mengasuhku.
“Yang sabar kak, ini semua cobaan dari Allah” sambil menepuk pundaku
“Iya paman, tapi aku ingin ikut” dengan air mata yang mulai mengalir
“Di sini saja sama paman, paman akan menjagamu, nanti kalau kamu ikut ke sana kamu hanya akan menambah beban Ibu mu yang harus merawat Abamu.”
“Iya paman, kenapa ini semua harus terjadi di dalam hidupku?” dengan nada agak marah
“Ini semua kehendak Allah”
Tak pernah ku sangka Paman mempunyai hati yang baik, sebelumnya aku telah menilai bahwa paman orang nya kasar dan tak memiliki hati sebaik ini. Semua kata-katanya sedikit demi sedikit dapat di cerna hatiku dan mengikis keinginan ku untuk ikut ke Jogja.

Tak lama kemudian mobil yang akan membawa Abaku ke jogja datang. Abaku pun keluar dari kamar dengan raut wajah yang pucat dan badan yang kurus. Aba pun berjalan dengan gontai menuju ke arahku yang sedang duduk terdiam yang masih memakai seragam sekolah merah putih.
“Kak, jaga adik mu ya?”
“Iya aba” jawabku dengan air mata yang kembali mengalir deras dengan kepala tertunduk.
Aba pun mulai memegang kepala ku dan di angkat kepalaku sehingga mataku dan matanya kini saling bertatapan.
“Kak, kakak ndak usah nanggis.”
“Tapi aba, penyakit Aba kan berarti cukup serius, sehingga harus di rawat di jogja”
“Aba pasti sembuh kog, kakak di sini jangan lupa sholat dan berdoa supaya Aba cepat sembuh”
“Pasti aba, kakak dan uki ngak akan lupa untuk berdoa”
“Sebelumnya Aba minta maaf ya? Nggak seharusnya kamu dan uki harus mengalami cobaan seberat ini di usia mu yang masih kecil, dan Aba ngak bisa membahagiakan kamu seperti teman-teman mu yang lain” dengan mata yang mulai berkaca-kaca
“Ngak papa aba, yang penting sekarang Aba sembuh dulu”
“Iya”
Aba pun memeluk ku dengan erat, sungguh aku belum pernah merasakan pelukan hangat dari Aba sejak dulu karena Aba adalah orang yang tegas dan galak di mata aku dan uki, air mata pun mengalir semakin deras membasahi pipi. Dari ke jauhan ada yang berlari menuju arahku dan Aba yang sedang berpelukan dan ternyata itu adalah Uki, adiku yang baru pulang bermain.

“Aba… aba mau kemana dengan ibu?” sambil memeluk ibu
Ibu pun mendekati Uki dan menjelaskan apa yang terjadi.
“Dek… Ibu harus mengantar Aba berobat ke jogja”
“Adek, ikut ya?”
“Adek di rumah aja dengan kakak, adek kan harus sekolah biar naik kelas”
“Bu… tapi… bu…” jawab adek dengan menangis dan merengek
Sembari ibu sedang menjelaskan kepada Uki, sopir yang akan mengantar Aba ke jogja sudah siap dan memotong pembicaraan Ibu dengan uki.
“Maaf bu, mobil sudah siap”
“Ya, pak sebentar”
Ibu pun akhirnya mengakhiri penjelasanya dengan Uki, tapi Uki tetap saja tidak bisa menerima, mungkin karena ia baru berusia 8 tahun.

“Pak, mobil sudah siap” kata ibu kepada aba
“Iya bu”
Aba pun merangkul Aku dan uki dengan erat, kembali air mata menetes dengan deras. Ibu dan orang-orang yang berada di rumah ku pun ikut larut sedih melihat kejadian ini. Tak lama kemudian Aba melepaskan pelukannya, dan mencium kening ku dan Uki sambil mengelus-elus rambut kami berdua, dan Aba pun sempat berkata.
“Kalian ingat dengan kata mutiara dari Kahlil Gibran, Manusia tidak dapat menuai cinta sampai dia merasakan perpisahan yang menyedihkan, dan yang mampu membuka fikirannya, merasakan kesabaran yang pahit dan kesulitan yang menyedihkan.”
“Iya aba ingat” jawab serentak aku dan uki sambil menangis
“Inilah cinta sebenarnya Aba terhadap kalian berdua walaupun terkadang Aba di mata kalian adalah orang yang menyebalkan”

Aba memang seorang yang suka dengan Kahlil Gibran dan Aba juga sering menceritakan tentang syair-syair ataupun kata-kata mutiara yang di buat oleh Kahlil Gibran, karena kata Aba, Kahlil Gibran dulu waktu masih kecil juga hidupnya penuh kesedihan, namun ia tetap tegar dan tabah dalam menghadapi cobaan yang di hadapinya. Cerita itu di ceritakan Aba agar aku dan uki bisa menjadi manusia yang kuat dalam menghadapi cobaan hidup. Aku sempat membaca sepenggal kata mutiara yang di buat oleh Kahlil Gibran dalam menghadapi cobaan di hidupnya, “Tanpa kehadiran bencana, kerja dan perjuangan tidak akan terwujud, dan hidup akan menjadi dingin, mandul dan membosankan.” Dan sepenggal kata mutiara ini menjadi kekuatan tersendiri dalam hidupku.

Aba dan Ibu pun bergegas meninggalkan ku dan masuk ke mobil, dan akhirnya mobil pun berjalan meninggalkan rumah ku dan melalui kaca mobil aku melihat Aba dan Ibu melambaikan tangan. Tangis ku kan Uki pun semakin keras. Paman ku yang berada di samping ku pun mencoba menenangkan ku dan mengajak kami masuk.
“Sudah-sudah Aba dan Ibu mu pasti akan kembali dalam 3 hari kedepan, ayo masuk ke dalam aja, udah hampir maghrib.” Sambil memegang tangan kami berdua dan mengajak masuk ke dalam
“Yang bener paman…?” tanyaku dengan spontan
“Iya”
Akhirnya kami berdua masuk ke rumah dengan keadaan tubuh yang lemah serasa semua energi ku telah tercurahkan untuk kejadian yang menguras air mata tadi.

Tiga hari pun berlalu, namun Aba dan Ibu tak kunjung kembali, aku pun menanyakannya kepada paman.
“Kog Aba dan Ibu belum pulang ini kan udah tiga hari paman?” tanyaku yang sedikit kesal karena merasa di bohongi
“Eeemmm, eeemmm…” jawab paman dengan perasaan bingung
“Jawab paman, paman pasti bohong kan kemarin?”
“Jadi gini sebenarnya kak, waktu ibu mu meminta paman untuk menjaga kalian berdua ibu mu berpesan kepada paman untuk mengatakan bahwa Aba dan Ibumu akan pulang dalam tiga hari agar kalian tenang, dan ini ada surat yang kemarin di kirim ibumu belum sempat paman buka.”
Aku pun memngambil surat yang di berikan oleh paman dan tanpa fikir panjng surat itu pun aku buka.

Salam rindu untuk kedua anak ku
Gimana kabar kalian? Semoga sehat dan jangan sedih ya? Ibu yakin kalian adalah anak-anak Ibu yang kuat.
Ibu dan Aba di sini Alhamdulillah baik, keadaan Abamu semakin membaik, dan besok Aba akan menjalani operasi besar, karena aba terkena tumor usus besar, doain Aba ya? Semoga operasinya lancar. Sekian dulu aja ya, besok Ibu akan kabari lagi.
Ibu sayang kalian berdua.

Tanpa tersadar air mata ku pun kembali menetes membasahisi surat yang di kirim oleh Ibu. Paman bertanya ke pada aku.
“Kenapa nanggis? Gimana isinya?”
Aku tak berkata apa-apa aku hanya memberikan surat ini keepada paman.
Paman pun membacanya dengan seksama. Tak lama kemudian paman mencoba menenangkan aku.
“Sudah, sebaiknya kita berdoa aja, semoga operasi nya besok lancar”
“Iya paman”

Dua hari berlalu aku pun menerima surat dari ibu lagi.

Salam rindu untuk anak ku tercinta
Gimana kabar kalian masih sehat kan? Dan ngak lupa gimana seolah kalian lancar kan? Ibu kangen banget lho sama kalian berdua, gimana kalian kangen ngak sama Ibu dan Aba?
Ibu mau memberi kabar baik kalau Abamu operasinya lancar, dan kemungkinan tiga hari kedepan sudah boleh pulang. Dan kita berempat akan berkumpul lagi.
Sekian dulu ya surat dari Ibu, besok Ibu kabari lagi.
Ibu sayang kalian berdua

Aku pun spontan sujud syukur, dan paman ku yang melihatku melakukan sujud syukur bertanya-tanya apa yang di lakukan sama anak ini.
“Kak ada apa? Kog sujud segala”
“Aba operasinya sukses, dalam tiga atau lima hari kedepan aba sudah boleh pulang”
“Alhamdulilah, ini semua berkat doa mu”
“Ini semua berkat doa kita semua paman” jawab ku dengan senyuman

Dua hari berlalu, serasa kebahagiaan akan menghinggapi hatiku karena esok Aba akan pulang dan keluargaku akan kembali utuh. Namun tiba-tiba ada suara sirine ambulance terdengar di depan rumah, sontak aku, paman, dan uki pun pun keluar rumah dan melihat. Dan seorang perempuan pun keluar dari ambulance dengan wajah yang sedih dan matanya yang lebam, dan ternyata itu adalah ibu ku.
“Ada apa bu? Apa yang terjadi?” serentak aku dan uki bertanya
“Abamu nak…” dengan tangis yang semakin keras
“Ada apa bu dengan Aba?”
“Abamu… abamu… telah tiada” dengan nafas yang sedikit berat
Aku, uki, dan paman seakan tidak percaya dengan semua perkataan ibu, sontak tangis pun tumpah seketika. Aku terpekur. Sekujur tubuhku terasa lemas, seakan semua tenagaku lenyap. Dengan perlahan peti mati pun keluar perlahan dari ambulance. Aku merasa tak kuat, aku pun jatuh dan terasa tertidur.

Setelah bangun dari pingsanku, kepalaku terasa agak pusing, namun fikiranku langsung tertuju kepada Aba. Aku pun berlari menuju ruang tamu yang di jadikan tempat meletakan jasad Aba, di sana ternyata aku sudah mendengar alunan ayat suci Al-Qur’an yang menggema, dan orang-orang sudah berdatangan untuk melayat. Ibu pun segera menghampiriku dan membesarkan hatiku, meski ku tahu ibu juga menyimpan rasa sedih yang begitu dalam namun semua itu ibu simpan dan tidak ia perlihatkan kepada anak-anaknya. Aku pun mencari adik ku uki, ku tak tahu berapa dalam kesedihan yang ia rasakan. Ia ternyata berada dalam dekapan pamanku, ia terus menerus menanggis. Sungguh ku tak sanggup melihat tangis itu, hati ku terasa pilu dan dada ku penuh rasa haru.

Matahari pun semakin meninggi, prosesi pemakaman pun segera di mulai, jasad Aba yang terbujur kaku pun mulai di tandu oleh berapa orang dan di masukan ke dalam Ambulance, untuk menuju ke pemakaman yang jaraknya lumayan jauh.
Setelah tiba di pemakaman, jasad Aba pun perlahan mulai di masukan ke dalam liang lahat dengan hati-hati. Dan akhirnya tanahpun benar-benar mengubur Aba, tangis pun kembali tumpah diantara kami sekeluarga. Taburan buka dari Ibu sambil menangis tersedu-sedu, semakin menambah rasa haru. Tiba-tiba adik ku meletakan sebuah kertas diatas makam Aba, yang ternyata sebuah pesan yang ia tuangkan kepada Aba.

Aba… Aba jaga diri baik-baik ya di sana, adek, kakak dan Ibu akan selalu mendoakan Aba di sana. Aba jangan lupa ya? Dengan Aku, Kakak, dan Ibu, sering-sering maen ke rumah untuk menengok kami aba? Karena kami akan selalu merindukanmu. I love you, kami kan merindukanmu selalu

Kertas itu pun penuh dengan air mataku, yang tak kuasa menahan rasa haru atas ungkapan dari secarik kertas yang di goreskan oleh adik ku.

Setelah pemakaman selesai Ibu menceritakan kepada ku tentang kejadian mengapa Aba meninggal.
“Kak sebenarnya operasi Aba berhasil namun satu hari setelah operasi tiba-tiba kondisi Aba drop karena menurut dokter Aba tidak hanya mengidap penyakit tumor usus namun Aba juga mengidap penyakit Jantung yang sudah parah, namun selama ini Aba tak pernah cerita, memang sempat Aba mengeluh merasakan nyeri di dadanya, namun Aba hanya menanggap biasa.”
“Sifat Aba memang begitu bu, tak ingin orang lain resah, ia lebih suka memendam apa yang ia rasakan sendiri”.

Cerita tentang Aba Sudah Selesai

Apakah ingin mencari cerita lain?

Temukan cerita, narasi, kisah, cerpen, karangan, dan dongeng serta fitur menarik lainnya, seperti Blog Publik APAKAH, tempat menerbitkan blog, cerita, atau bahkan curhatan gratis untuk siapa saja! Cari semua cerita Anda (terlengkap) hanya di Apakah.id. Ketikkan kata kuncinya di bawah.

Atau APAKAH ingin menerbitkan Cerita?

Tentang APAKAH

APAKAH adalah platform bertanya dan berdiskusi. Halaman ini termasuk dalam salah satu fitur di apakah.id, yaitu APAKAH Arti yang termuat dalam APAKAH Kamus. Selain itu, di sini juga dilengkapi dengan APAKAH sinonim, antonim, dll. Terdapat pula pembeda dari situs sejenis, APAKAH Arti membantu Anda dalam mencari definisi kata secara lebih mendalam hingga ke banyak pendapat ahli serta sumber bacaannya. APAKAH juga menyediakan perkembangan tren kata melalui Google Trends. Serta, desainnya yang modern dan dilengkapi dengan contoh penggunaan kata pada kutipan dan puisi, diharapkan dapat menyesuaikan dengan pengguna jaman sekarang.

Logo Apakah

Hubungi kami

Jika terdapat masukan, saran, pertanyaan, dan laporan iklan mohon hubungi kami.

Rincian Penilaian Cerita Aba

Judul Cerita

0 % /40%

Ketertarikan

0 % /60%

Kesesuaian

Plot & Isi Cerita

0 % /10%

Keutuhan

0 % /30%

Emosi

0 % /30%

Kejutan

0 % /30%

Keingintahuan

Karakter

0 % /33%

Fisiologis

0 % /33%

Psikologis

0 % /34%

Sosiologis

Latar

0 % /33%

Tempat

0 % /33%

Waktu

0 % /34%

Suasana

Kepenulisan

0 % /5%

Kerapian Paragraf

0 % /10%

Saltik

0 % /20%

Tanda Baca

0 % /25%

Tata Bahasa

0 % /40%

Orisinal / Unik

Moralitas

0 % /30%

Pembangunan Mental & Motivasi

0 % /30%

Mempengaruhi Banyak Orang

0 % /40%

Kesan Mendalam

Kreatifitas & Pemahaman

0 % /20%

Jangkauan Kalangan

0 % /20%

Artistik

0 % /30%

Kelogisan

0 % /30%

Gaya Bahasa

Kemudahan

0 /2500

Jumlah Kata

Minimal 800 Kata (60%)
Optimal 2500 kata (100%)
Maksimal 5000 Kata (80%)

Apakah ingin mencari cerita lain?

Temukan cerita, narasi, kisah, cerpen, karangan, dan dongeng serta fitur menarik lainnya, seperti Blog Publik APAKAH, tempat menerbitkan blog, cerita, atau bahkan curhatan gratis untuk siapa saja! Cari semua cerita Anda (terlengkap) hanya di Apakah.id. Ketikkan kata kuncinya di bawah.

Cerita

<a href="https://apakah.id/cerita/teman-yang-baik/" title="Teman yang Baik | Contoh Cerita Pendek 2021: Kisah Indonesia " rel="bookmark" target="_blank">Teman yang Baik | Contoh Cerita Pendek 2021: Kisah Indonesia

Baca Selengkapnya
Cerita

<a href="https://apakah.id/cerita/mimpi-sang-dara/" title="Mimpi Sang Dara | Contoh Cerita Pendek 2021: Kisah Indonesia " rel="bookmark" target="_blank">Mimpi Sang Dara | Contoh Cerita Pendek 2021: Kisah Indonesia

Baca Selengkapnya
5 1 vote
Penilaian
Subscribe
Notify of
guest
0 Komentar
Inline Feedbacks
View all comments